ALLNiteCafe Site

Ikon

Allnitecafe Global Tips & Guide! | Tips Chatting MIRC & Yahoo! Messenger | Hacking | Browsing | All The best Solution. It's all here!

CINTA ILAHI

Cinta  diarahkan  oleh  kecerdasan.  Karena  itu  tiap  orang  memilih  obyek  cintanya  sesuai  dengan tingkat   evolusinya.   Obyek   itu   tampak   baginya   paling   berhak   atas   cinta   menurut   tingkatan evolusinya.  Di  Timur  ada  pepatah,  “Sebagaimana  jiwa,  demikianlah  malaikatnya.”  Keledai  lebih menyukai rumput berduri daripada mawar.

Kesadaran  yang  bangkit  di  alam  materi  memiliki  obyek  cinta  hanya  pada  keindahan  duniawi. Kesadaran  yang  bekerja  melalui  pikiran  menemukan  obyeknya  dalam  gagasan  dan  di  antara orang-orang yang berpikir. Kesadaran yang bangkit melalui hati menyukai cinta dan orang-orang yang mencintai. Kesadaran yang bangkit di dalam jiwa mencintai ruh dan spiritual.

Cinta  tanpa  kata,  yang  merupakan  inti  ilahi  di  dalam  manusia,  menjadi  aktif  dan  hidup  ketika melihat  keindahan.  Keindahan  dapat  dijelaskan  sebagai  kesempurnaan,  kesempurnaan  dalam setiap aspek keindahan. Cinta itu sendiri bukanlah Allah atau esensi Allah, tetapi juga keindahan, bahkan  dalam  aspek  yang  terbatas,  membeberkan  diri  sebagai  perwujudan  Keberadaan  yang sempurna.

Kerajaan    mineral    berkembang    menjadi    emas,    perak,    berlian,    dan    permata, menunjukkan keindahannya. Buah dan bunga, manis dan harumnya menunjukkan kesempurnaan kerajaan tumbuh-tumbuhan. Bentuk, corak, dan kemudaan menunjukkan kesempurnaan kerajaan hewan.

Keindahan   kepribadian   merupakan   kesempurnaan   yang   nyata   di   dalam   manusia. Beberapa orang di dunia ini hidupnya tenggelam dalam pencarian emas, perak, dan batu permata. Mereka  rela  mengorbankan  apapun  dan  siapapun  untuk  memperoleh  obyek  cinta  mereka. Beberapa  orang  lain  hidupnya  terserap  dalam  keindahan  buah-buahan,  bunga,  dan  taman. Mungkin  mereka  tak  tertarik  obyek  lain.  Beberapa  orang  terserap  dalam  mengagumi  keindahan dan  kemudaan  lawan  jenis  kelaminnya,  dan  hal-hal  lain  tampak  tak  bernilai.  Orang  lain  terpaku pada  keindahan  kepribadian  seseorang,  dan  telah  sepenuhnya  membaktikan  diri  kepada  orang yang  mereka  cintai  baik  di  sini  maupun  di  hari  kelak.

Semua  orang  mempunyai  obyek  cinta menurut  standar keindahannya  sendiri,  dan  setiap  orang  mencintai  kesempurnaan  Keberadaan ilahi dalam aspek tertentu. Ketika orang melihat ini, tak seorang pun, bijak atau bodoh, pendosa atau  orang  baik,  tak  dapat  disalahkan  dalam  pandangannya.  Ia  melihat  dalam  setiap  hati  jarum kompas   yang   mengarah   ke   Keberadaan   yang   sama.   “Allah   itu   indah   dan   Dia   menyukai keindahan,” seperti disebutkan di dalam Hadits.

Manusia  tak  pernah  mampu  mencintai  Allah  di  surga  bila simpatinya  belum  bangkit  terhadap keindahan di bumi.

Seorang  perawan  desa  sedang  pergi  untuk  menemui  kekasihnya.  Ia  melewati  seorang  Mullah yang sedang melakukan shalat. Karena tidak tahu, ia berjalan di depan Mullah itu, suatu hal yang dilarang oleh agama. Mullah itu sangat marah, hingga ketika gadis itu kembali lewat di dekatnya, ia memarahinya. Ia berkata. “Alangkah berdosanya, hai gadis muda, berjalan di depanku ketika aku sedang shalat.

” Gadis itu berkata, “Apa artinya shalat?” Dijawab, “Aku sedang memikirkan Allah, Tuhan langit dan bumi.” Gadis itu berkata, “Maafkan aku, aku belum tahu Allah dan shalat bagi- Nya, tetapi tadi aku sedang berjalan menuju kekasihku dan memikirkan kekasihku, hingga aku tak melihatmu  sedang  shalat.  Aku  heran  bagaimana  anda  yang  sedang  memikirkan  Allah  dapat melihatku?” Perkataan gadis itu sangat berkesan pada Mullah hingga ia berkata, “Sejak saat ini, hai gadis, engkau adalah guruku. Akulah yang harus belajar darimu.”

Suatu  ketika  seseorang  datang  kepada  Jami  dan  minta  agar  dijadikan  muridnya.  Jami  berkata, “Pernahkah  engkau  mencintai  seseorang  dalam  hidupmu?”  Ia  menjawab,  “Tidak.”  Jami  berkata,
“Kalau begitu, pergilah dan cintailah seseorang, dan kemudian datanglah kepadaku.”

Dengan  alasan  itulah  para  guru  besar  sering  mengalami  kesulitan  dalam  membangkitkan  cinta kepada Allah di dalam rata-rata manusia. Orang tua memberi boneka kepada anak perempuannya agar   anak   itu   tahu   bagaimana   memberi   pakaian   kepadanya,   bagaimana   menyayanginya, bagaimana menjaganya, bagaimana mencintai dan mengaguminya; hal ini melatih anak agar kelak menjadi  ibu  yang  mencintai.  Tanpa  latihan  ini,  yang  kemudian  akan  menjadi  sulit.  Cinta  ilahi merupakan  hal  yang  asing  bahwa  rata-rata  orang  karena  sentuhan  keibuan  terhadap  anak gadisnya tidak dapat dimainkan secara penuh terhadap boneka.

Seorang  murid  telah  lama  melayani  pembimbing  spiritual,  tetapi  ia  tak  membuat  kemajuan  dan tidak  menerima  inspirasi.  Ia menghadap  gurunya  dan  berkata,  “Aku  telah  melihat  banyak  sekali murid  yang  menerima  inspirasi,  tetapi  aku  ini  begitu  malang  hingga  tak  memperoleh  kemajuan sama  sekali,  maka  kini  aku  harus  menyerah  dan  meninggalkanmu.

”  Guru  itu  memintanya  agar menghabiskan hari-hari terakhir di dalam sebuah rumah tertentu, dan setiap hari ia mengirimkan makanan  yang  lezat  dan  berkata  agar  ia  menghentikan  latihan  spiritual,  agar  memperoleh kehidupan yang nyaman dan santai. Pada hari terakhir ia mengirimi murid itu sekeranjang buah melalui seorang gadis cantik.

Gadis itu menata buah-buahan dan segera pergi meskipun murid itu berusaha untuk menahannya. Kecantikan dan pesonanya sangat besar, hingga murid itu sangat mengagumi dan terpikat olehnya, dan ia tak memikirkan hal-hal lain. Setiap jam dan setiap menit murid itu hanya rindu untuk bertemu lagi dengannya.

Kerinduannya bertambah setiap saat. Ia lupa untuk  makan,  ia  dipenuhi  air  mata  dan  napas  panjang,  karena  hatinya  kini  menjadi  hangat  dan lumer  oleh  api  cinta.  Setelah  beberapa  lama,  ketika  guru  mengunjungi  murid  itu,  dengan  satu pandangan ia memberi inspirasi kepadanya. “Baja pun dapat dibentuk bila dipanasi di dalam api,” demikian pula dengan hati yang dilumerkan dengan api cinta.

Ada  anggur  cinta  yang  disebut  Sherab-i  Kauthar,  anggur  yang  terdapat  di  dalam  surga.  Ketika mabuk cinta meningkat di dalam manusia, ia disebut cinta buta atau gila dalam cinta, karena orang yang  melihat  ilusi  di  permukaan  menganggap  diri  sendiri-lah  yang  sadar  dan  terjaga.  Tetapi keterjagaan mereka adalah terhadap tipuan, bukan terhadap realita.

Meskipun pecinta disebut gila, kegilaannya  terhadap  satu  obyek  dunia  ilusi  akan  membuatnya  secara  bertahap  terbebas  dari semua tipuan di sekelilingnya. Bila ia berhasil, ia akan menikmati penyatuan dengan kekasihnya di dalam  visi  bahagianya.  Maka  dengan  seketika  tersingkaplah  selubung  [hijab]  yang  menutupi pandangannya terhadap obyek yang dicintainya. Al Qur’an menyebutkan, “Kami akan mengangkat hijab dari matamu dan pandanganmu akan menjadi tajam.”

Secara alami, seorang pecinta terobsesi oleh seseorang yang dikaguminya, yang ia ingin bersatu dengannya. Tetapi tak ada satu obyek pun di dunia ini yang sempurna hingga dapat memuaskan keinginan hati yang mencintai. Ini merupakan batu penghalang yang menyebabkan setiap pemula gagal  dalam  mencintai.

Pejalan  yang  berhasil  di  jalur  cinta  adalah  orang-orang  yang  cintanya begitu  indah  hingga  memberi  keindahan  yang  tidak  didapat  di  dalam  idaman  mereka.  Dengan melakukan  ini,  pada  saatnya  pecinta  akan  terangkat  ke  atas  keindahan  kekasih  yang  berubah- ubah dan terbatas, tetapi mulai melihat ke dalam keberadaan terdalam kekasihnya.

Dengan kata lain,  bagian  luar  kekasih  hanyalah  sarana  untuk  menarik  cinta  dari  hati  pecinta,  tetapi  cinta  itu mengantarkannya dari luar ke lapisan terdalam dari kesempurnaan cintanya. Bila di dalam idaman itu  pecinta  telah  merasakan  keberadaan  yang  tak  terbatas  dan  sempurna,  apakah  ia  mencintai manusia atau Allah, sesungguhnya ia adalah pecinta yang sempurna.

Di  sini  perjalanan  melalui  jalur  idealisme  berakhir,  dan  perjalanan  melalui  kesempurnaan  ilahi dimulai, karena kesempurnaan Allah diperlukan bagi pencapaian kesempurnaan hidup. Kemudian manusia mencari obyek cinta yang sempurna, mengidealkan Allah, Keberadaan tunggal, Yang Tak Terhingga, yang berada di atas semua cahaya dan kegelapan dunia, di atas baik dan buruk, yang bebas dari semua keterbatasan, bebas dari kelahiran dan kematian, tak berubah, tak terpisahkan dari kita, Maha meliputi (berada), selalu hadir di depan mata pecinta-Nya.

Bila cinta itu sejati, ia melenyapkan pementingan diri sendiri, karena ini merupakan satu-satunya solusi untuk menghapus ego. Ungkapan “jatuh cinta” [fall in love] membawa gagasan sifat cinta yang sesungguhnya. Benar-benar jatuh dari ketinggian ego ke tanah ketiadaan,  tetapi sekaligus kejatuhan ini akan membuatnya naik, karena seberapa dalamnya pecinta jatuh, sedemikian pula tingginya ia akan meningkat pada akhirnya. Pecinta yang jatuh dalam cinta adalah seperti benih yang  jatuh  ke  tanah.  Keduanya  tampak  rusak,  tetapi  keduannya  pada  saatnya  akan  tumbuh bersemi dan menghasilkan buah bagi dunia yang senantiasa lapar.

Musuh  terbesar  manusia  adalah  ego-nya,  gagasan  mengenai  diri  sendiri.  Ini  merupakan  kuman yang  menghasilkan  semua  keburukan  dalam  manusia.  Perbuatan  baik  seorang  egois  berubah menjadi  dosa,  dan  dosa  kecilnya  berubah  menjadi  kejahatan  besar.  Semua  agama  dan  filsafat mengajar manusia untuk menindasnya, dan tak ada alat yang dapat melumatkannya dengan lebih baik  daripada  cinta.  Tumbuhnya  cinta  adalah  kematian  ego.  Cinta  yang  sempurna  sepenuhnya membebaskan  pecinta  dari  pementingan  diri  sendiri,  karena  cinta  dapat  disebut  juga  dengan peniadaan [annihilation]. “Sesiapa yang memasuki sekolah cinta, pelajaran pertama yang diterima adalah menjadi bukan apa-apa.”

Bersatu  tidak  mungkin  tanpa  cinta,  karena  hanya  cinta  yang  dapat  mempersatukan.  Setiap ungkapan cinta menandakan pencapaian penyatuan dengan obyeknya, dan dua obyek tak dapat bersatu kecuali salah satunya menjadi bukan apa-apa. Tak seorang pun mengetahui rahasia hidup ini  kecuali  pecinta.

Iraqi  berkata,  “Ketika  aku  tanpa  cinta  pergi  ke  Ka’bah  dan  mengetuk  pintu gerbang, sebuah suara datang: ‘Apa yang engkau lakukan di rumahmu hingga engkau datang ke sini?’ Dan ketika aku pergi, karena aku lenyap dalam cinta, dan mengetuk pintu gerbang Ka’bah, datanglah suara: ‘Datanglah, datanglah hai Iraqi, engkau adalah bagian dari kami.'”

Bila ada sesuatu yang melawan kebanggaan ego, ia adalah cinta. Sifat cinta adalah berserah diri. Dunia keragaman yang membagi kehidupan menjadi bagian-bagian yang terbatas, menyebabkan setiap  yang  lebih  kecil  berserah  diri  kepada  yang  lebih  besar.  Setiap  yang  lebih  besar,  baginya masih ada sesuatu yang lebih besar darinya; dan bagi setiap yang lebih kecil masih ada yang lebih kecil   darinya.

Sebagaimana   setiap   jiwa   secara   alami   cenderung   untuk   berserah   kepada kesempurnaan  dalam  semua  tingkatan,  satu-satunya  masalah  adalah  apakah  ia  mau  atau  tidak mau berserah diri. Yang pertama datang dari cinta, yang kedua datang dari ketakberdayaan yang membuat   hidup   susah.   Para   Sufi   tersentuh   ketika   membaca   di   dalam   Al   Qur’an   bahwa Keberadaan   sempurna   bertanya   kepada   jiwa-jiwa   yang   tak   sempurna,   anak-anak   Adam, “Siapakah  Tuhanmu?”  Menyadari  ketidaksempurnaannya,  mereka  menjawab  dengan  merendah, “Engkaulah  tuhanku.

”  Maka  berserah  diri  adalah  kutukan,  bila  orang  dipaksa  untuk  menyerah dengan dingin. Tetapi hal yang sama menjadi kegembiraan yang terbesar bila dilakukan dengan cinta dan dengan sukarela.

Cinta merupakan praktek moral Suluk, jalan kebaikan. Kegembiraan pecinta berada di dalam ridha kekasihnya.  Pecinta  puas  bila  kekasih  terpuaskan.  “Siapa  yang  dalam  hidup  memberkahi  orang yang mengutuknya? Siapa yang dalam hidup mengagumi orang yang membencinya? Siapa yang dalam hidup setia kepada orang yang tak setia? Tak lain dari seorang pecinta.” Dan pada akhirnya diri pecinta lenyap dari pandangannya, hanya wajah kekasih, wajah yang dirindukan, yang ada di depannya selamanya.

Cinta adalah inti semua agama, mistisisme, dan filsafat, dan orang yang telah belajar cinta ini telah memenuhi tujuan agama, etika dan filsafat, dan pecinta itu terangkat ke atas semua ragam agama dan kepercayaan.

Suatu saat Musa memohon kepada Tuhan bani Israel di gunung Sinai, “Hai Tuhan, Engkau telah begitu besar memberi kehormatan kepadaku dengan menjadikan aku utusan-Mu. Bila masih ada kehormatan  yang  lebih  besar,  aku  mohon  Engkau  datang  ke  rumahku  dan  membelah  roti  di  mejaku.”  Maka  datang  jawaban,  “Musa,  dengan  senang  hati  Kami  akan  datang  ke  rumahmu.” Musa menyiapkan makanan yang lezat dan menunggu dengan penuh harap kedatanggan Allah. Kebetulan, di depan pintu rumahnya lewat seorang pengemis yang berkata, “Musa, aku sakit dan lelah,  aku  tidak  makan  selama  tiga  hari  dan  aku hampir  mati.  Berilah  aku  sepotong  roti  dan selamatkan nyawaku.”

Karena  sangat  berharap  atas  kedatangan  Allah,  Musa  berkata  kepada  pengemis  itu,  “Tunggu, engkau akan kuberi lebih dari sepotong, dan makanan lain yang enak. Aku menunggu kedatangan tamu yang akan datang petang ini. Bila ia telah pergi, maka semua yang tersisa akan kuberikan kepadamu  agar  engkau  dapat  membawanya  pulang.”  Orang  itu  pergi  dan  waktu  berlalu,  tetapi Allah  tidak  datang,  maka  Musa  kecewa.

Keesokan  harinya  Musa  pergi  ke  Sinai  dan  menangis, “Tuhanku,  aku  tahu  Engkau  tidak  mengingkari  janji,  tetapi  dosa  apa  yang  aku  lakukan  hingga Engkau  tidak  datang  seperti  Engkau  janjikan?”  Allah  berkata  kepada  Musa,  “Kami  datang,  hai Musa, tetapi sayang, engkau tak mengenali Kami. Siapa pengemis di depan pintumu? Apakah ia bukan  Kami?  Kami-lah  yang  berada  di  dalam  semua  bentuk  yang  hidup  dan  bergerak  di  dunia, namun kami jauh di dalam langit abadi Kami.”

Keragaman   dapat   terjadi   dalam   agama-agama,   tetapi   motif   dari   semuanya   adalah   satu: menyuburkan  dan  menyiapkan  hati  manusia  bagi  cinta  ilahi.  Kadang-kadang  ruh  pembimbing menarik perhatian manusia agar melihat dan mengagumi keindahan Allah di langit, kadang-kadang di  dalam  pohon  dan  batu,  membuatnya  menjadi  pohon  sakral,  gunung  suci,  dan  sungai  yang menyucikan.

Kadang-kadang  ia  menuntun  perhatian  manusia  agar  melihat  keberadaan  Allah  di antara  hewan  dan  burung-burung,  dengan  menyebut  mereka  hewan  suci,  burung  sakral.  Ketika
manusia menyadari bahwa tak ada ciptaan yang lebih tinggi dari dirinya, ia berhenti menyembah ciptaan  yang  lebih  rendah,  karena  mengenali  cahaya  ilahi  yang  menjelma  di  dalam  manusia. Maka, dalam tahapan evolusi manusia, dunia melihat Allah di dalam manusia, terutama di dalam orang suci yang berkesadaran Allah.

Manusia dengan diri yang terbatas tak dapat melihat Allah, keberadaan yang sempurna, dan bila ia mampu  menggambarkan-Nya,  gambaran  yang  terbaik  adalah  manusia.  Bagaimana  ia  dapat membayangkan sesuatu yang belum pernah diketahuinya? “Kami menciptakan manusia menurut gambar  Kami  sendiri.

”  Krishna  bagi  orang  Hindu,  Buddha  bagi  para  Buddhis,  adalah  Allah  bagi manusia.   Para   malaikat   tak   pernah   digambarkan   dengan   bentuk   selain   manusia.   Bahkan penyembah  Allah  yang  tak  berbentuk  telah  mengidealkan  Allah  dengan  kesempurnaan  atribut manusia, meskipun ini hanya merupakan tangga untuk mencapai cinta dari Allah yang sempurna, yang diperoleh secara bertahap.

Hal  ini  dijelaskan  dalam  kisah  masa  lalu.  Suatu  ketika  Musa  berjalan  melalui  sebuah  padang ternak dan melihat seorang anak gembala berbicara kepada diri sendiri “Ya Tuhan, Engkau begitu baik hingga aku merasa bila Engkau berada di sini, aku akan menjagamu dengan lebih baik dari pada  semua  kambingku,  lebih  dari  semua  ayamku.  Bila  hujan  aku  akan  menempatkan-Mu  di bawah  atap  ilalang,  bila  dingin  aku  akan  menutup  diri-Mu  dengan  selimutku,  dan  bila  panas matahari menyengat aku akan membawamu mandi di sungai. Aku akan membawamu tidur dengan kepala-Mu di pangkuanku, aku akan mengipasimu dengan topiku, dan akan selalu mengawasimu dan menjagamu dari serigala.

Aku akan memberimu roti untuk makan dan susu untuk minum, dan untuk menghiburmu aku akan menyanyi dan menari dan memainkan serulingku. Ya Tuhanku, bila Engkau mendengarkan ini, datanglah dan lihat bagaimana aku akan memanjakan-Mu.”

Musa  terkejut  mendengar  semua  itu,  dan,  sebagai  pengantar  pesan  ilahi,  ia  berkata,  “Alangkah kurangajarnya engkau, hai anak gembala, dengan membatasi Dia yang tak berbatas, Allah, Tuhan alam  semesta,  yang  tak  berbentuk,  tak  berwarna  dan  tak  dapat  ditangkap  dengan  pemahaman manusia.” Anak gembala itu sedih dan takut atas apa yang telah dilakukannya. Namun kemudian datang  wahyu  kepada  Musa:  “Kami  ridha  dengan  perbuatannya,  hai  Musa,  karena  Kami  telah
mengutusmu  untuk  mempersatukan  keberadaan  Kami  yang  terpisah-pisah  dengan  Kami,  bukan untuk mencerai-beraikan. Berkatalah kepada setiap orang menurut tingkatan evolusinya.”

Hidup  di  dunia  penuh  dengan  kebutuhan,  tetapi  di  antara  berbagai  kebutuhan,  kebutuhan  akan sahabat adalah yang terpenting. Tiada kesedihan yang lebih besar dari kesedihan orang yang tak berteman. Bumi ini akan berubah menjadi surga bila seseorang menginginkan teman dalam hidup. Namun surga, dengan semua kesenangan yang diberikannya, akan menjadi neraka bila tak ada teman yang dicintai.

Jiwa  yang  berpikir  selalu  mencari  persahabatan  yang  berlangsung  lama.  Orang  bijak  lebih menyukai  seorang  teman  yang  mau  berjalan  bersamanya  dalam  sebagian  besar  perjalanan hidupnya. Miniatur dari perjalanan hidup kita dapat dilihat pada perjalanan biasa. Bila ketika kita pergi   ke   Swiss,   kita   berteman   dengan   seseorang   yang  membeli   tiket   ke   Bombay,   maka kebersamaan  dengannya  akan  berlangsung  beberapa  lama,  dan  sesudah  itu,  di  sepanjang  sisa perjalanan  kita  akan  pergi  sendirian.  Setiap  persahabatan  di  dunia  hanya  akan  berlangsung sebentar   dan   akan   berhenti.

Karena   perjalanan   kita   akan   melampaui   kematian,   bila   ada persahabatan yang kekal, maka persahabatan itu hanyalah dengan Allah, yang tak berubah dan tak  berakhir.  Tetapi  bila  kita  tak  dapat  melihat  dan  tak  dapat  menangkap  keberadaan-Nya,  tak mungkin  kita  berteman  dengan  seseorang  yang  tak  kita  sadari.  Dengan  Allah  sebagai  satu- satunya  sahabat,  persahabatan  dengan-Nya  adalah  satu-satunya  persahabatan  di  dunia  yang dapat   menuntun   kita   kepada   Kekasih   ilahi.   Banyak   di   antara   para   Sufi   yang   mencapai kesempurnaan  Allah  melalui  Rasul,  manusia  ideal.

Dan  orang  mencapai  pintu  Rasul  melalui Syekh,  mursyid  atau  pembimbing  spiritual,  yang  jiwanya  terfokus  kepada  ruh  Rasul  sehingga terkesan  oleh  kualitasnya.  Jalan  ini  menjadi  jelas  bagi  para  pejalan  di  jalur  pencapaian  Kekasih ilahi.

Persahabatan dengan Syekh tak punya motif selain bimbingan dalam mencari Allah. Persahabatan
itu akan berlangsung selama anda ada, selama anda mencari Allah, selama bimbingan diperlukan. Persahabatan    dengan    Syekh    disebut    Fana-fi-Syekh,    dan    ini    kemudian    berubah    menjadi
persahabatan  dengan  Rasul.  Bila  murid  menyadari  keberadaan  kualitas  spiritual  mursyid  yang lebih dari manusia biasa, itulah saatnya ia siap untuk Fana-fi-Rasul.

Persahabatan dengan Syekh adalah persahabatan dengan bentuk, dan bentuk itu dapat lenyap. Orang mungkin berkata, “Aku punya seorang ayah, tetapi sekarang sudah tiada.” Sesungguhnya, kesan tentang ayahnya masih ada di dalam pikirannya. Kebaktiannya kepada Rasul adalah seperti itu.  Nama  dan  kualitasnya  masih  ada  meskipun  bentuk  fisiknya  telah  lenyap  dari  bumi.  Rasul adalah personifikasi dari cahaya bimbingan yang diidealkan murid menurut tingkatan evolusinya.
Kapan  pun  murid  itu  mengingatnya,  di  darat,  di  udara  air,  di  dasar  laut,  ia  hadir  bersamanya. Kebaktian  kepada  Rasul  merupakan  tahapan  yang  tak  dapat  diabaikan  dalam  pencapaian  cinta
ilahi. Tahapan ini disebut Fana-fi-Rasul.

Setelah itu datanglah Fana-fi-Allah, ketika cinta kepada Rasul tenggelam ke dalam cinta kepada Allah.   Rasul   adalah   Guru   yang   diidealkan   karena   atributnya   yang   dicintai,   kebaikannya, kesuciannya, kasihnya. Keutamaannya dapat dipahami. Bentuknya tak diketahui, hanya namanya yang menunjukkan kualitasnya. Tetapi Allah adalah nama yang diberikan kepada kesempurnaan ideal di mana semua keterbatasan lenyap, dan dalam Allah ideal itu berakhir.

Seseorang  tak  kehilangan  persahabatan  dengan  mursyid  atau  dengan  Rasul,  tetapi  ia  melihat mursyid   di   dalam   Rasul   dan   melihat   Rasul   di   dalam   Allah.   Kemudian   untuk   memperoleh bimbingan, untuk memperoleh nasihat, ia hanya mencarinya dari Allah saja.

Ada  kisah  mengenai  Rabiah,  seorang  Sufi  besar,  bahwa  ia  pernah  melihat  Muhammad  dalam visinya dan ia ditanya oleh Nabi, “Hai Rabiah, siapa yang kau cintai?” Ia menjawab, “Allah.” Nabi  berkatka,  “Bukan  Rasul-Nya?”  ia  menjawab,  “Hai  Guru  yang  diberkahi,  siapa  di  dunia  ini  yang mengetahuimu tetapi tak mencintaimu? Tetapi kini hatiku begitu tenggelam dalam Allah hingga aku tak dapat melihat sesuatu kecuali Dia.”

Bagi mereka yang melihat Allah, Rasul dan Mursyid lenyap dari pandangan. Mereka hanya melihat Allah di dalam Mursyid dan Rasul. Mereka melihat segala sesuatu sebagai Allah dan tak melihat yang lain.

Dengan kebaktian kepada mursyid, murid belajar mencintai, berdiri dengan kerendahan anak kecil, pada  wajah  setiap  makhluk  di  bumi  ia  melihat  bayangan  wajah  mursyidnya.  Bila  Rasul  yang diidealkan,  ia  melihat  semua  yang  indah  terefleksi  di  dalam  kesempurnaan  Rasul  yang  tidak tampak.Kemudian ia menjadi independen bahkan dari keutamaan, yang juga memiliki kutub yang berseberangan, dan pada kenyataannya tidak ada, karena itu hanya perbandingan yang membuat sesuatu lebih baik daripada yang lain. Ia hanya mencintai Allah, kesempurnaan yang ideal, yang tak  dapat  dibandingkan.  Kemudian  ia  sendiri  berubah  menjadi  cinta,  dan  karya  cinta  telah diselesaikan.  Kemudian  pecinta  sendiri  berubah  menjadi  sumber  cinta,  asal  cinta,  dan  ia  hidup dalam  kehidupan  Allah,  yang  disebut  Baqa  bi-Allah.  Kepribadiannya  menjadi  kepribadian  ilahi.

Kemudian pikirannya menjadi pikiran Allah, perkataannya menjadi perkataan Allah, perbuatannya menjadi perbuatan Allah, dan ia sendiri menjadi cinta, pecinta, dan kekasih sekaligus.

Filed under: Hikayat Cinta, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Dalam suatu kesempatan, saya pernah melihat seorang auditor keamanan jaringan melalukan penetration test (pen-test) terhadap suatu sistem IT. Read more...

Mau Bisnis Pulsa???

server
Bisnis Server Pulsa, mo bisnis server pulsa elektrik all operator tapi bingung cara mulainya? Lanjuuut >>

Pulsa Murah Proses Cepat

supplier pulsa
Stok Pulsa All Operator, Cari Pulsa Murah Disini Tempatnya... Lanjuuut >>

Tips Tawar Menawar Harga Rumah

Info Property
Ada seni & trik tersendiri yang diperlukan orang saat jual beli barang. Yakni, bagaimana tawar-menawar harga.

Indo Flasher

ufs3
Cara Mudah Belajar Service Handphone dengan Ahlinya ada di sini nih..
Baca Selengkapnya »

Elektronik HOBY

Elektronik Hoby
Cara Mudah Belajar ELEKTRONIK dengan Ahlinya ada di sini nih..
Baca Selengkapnya »
Master Digital

bisinis mlm
Server Pulsa

Video Tutorial IM Mau..???

"Video Tutorial" Desaind WebSite & Menghasilkan PASIVE INCOME Mau??? Password aksess :allnitecafe
Klik Disini>>

RSS Bedah Tentang Server Pulsa

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Download Skematik Elektronik

Pengunjung ke :

  • 429,983 Pengunjung
free counters

Tukeran Link Yuk Taruh Script Ini Di Blog anda & saya akan Link Balik

<a title="allnitecafe" href="https://allnitecafe.wordpress.com/" target="_blank"> <img src="https://allnitecafe.files.wordpress.com/2009/08/master-digital.gif" border="0" alt="allnitecafe" /></a>
Master Digital Software Pulsa Elektrik
%d blogger menyukai ini: