ALLNiteCafe Site

Ikon

Allnitecafe Global Tips & Guide! | Tips Chatting MIRC & Yahoo! Messenger | Hacking | Browsing | All The best Solution. It's all here!

LAILA DAN MAJNUN

xat_heartsKisah   Laila   dan   Majnun   diceritakan   di   Timur   selama   ribuan   tahun   dan   selalu   membawa kekaguman besar, karena ini bukan sekedar sebuah kisah cinta, melainkan juga sebuah pelajaran cinta. Bukan cinta sebagaimanaumumnya dipahami orang, tetapi cinta yang berada di atas bumi dan langit.

Seorang   pemuda   bernama   Majnun   sejak   kecil   telah  menunjukkan   cinta   dalam   sifatnya, mengungkapkan  tragedi  hidup  kepada  mata  orang  yang  jeli.  Ketika  Majnun  bersekolah,  ia menyukai Laila. Percikan api itu akhirnya menjadi api, dan Majnun merasa tidak tenang bila Laila sedikit terlambat datang ke sekolah.

Dengan buku di tangannya, Majnun mengarahkan matanya ke pintu masuk, dan hal ini diketahui banyak orang. Api itu kemudian menjadi api besar dan kemudian hati Laila menyala oleh cinta Majnun. Mereka saling berpandangan. Laila tak melihat seorang pun di  dalam  kelas  kecuali  Majnun,  demikian  pula  sebaliknya,  Majnun  hanya  melihat  Laila.  Apabila membaca buku mata Majnun hanya melihat nama Laila; dalam menulis ketika didikte guru, Laila hanya  menuliskan  semua  baris  dengan  nama  Majnun.  “Semua  yang  lain  menghilang  ketika gagasan mengenai kekasih menguasai pikiran pecinta.”

Semua murid yang lain di kelas saling berbisik sambil menunjuk kepada mereka berdua. Para guru khawatir dan menulis kepada orang tua mereka bahwa anak-anak mereka mabuk cinta dan saling menyukai, dan bahwa tampaknya tak ada cara untuk mengalihkan perhatian mereka dari urusan cinta yang telah menghentikan setiap kemungkinan perkembangan dalam belajar.

Orang tua Laila langsung melarang gadis itu pergi ke sekolah, dan mengawasinya secara ketat. Dengan  cara  ini  mereka  menjauhkan  Laila  dari  Majnun,  tetapi  siapa  yang  mampu  menjauhkan Majnun  dari  hati  Laila?  Ia  tidak  memikirkan  apapun  selain  Majnun.  Tanpa  Laila,  Majnun  tidak tenang  dan  menangis  di  dalam  hatinya,  semua  orang  di  sekolah  menjadi  kacau,  sampai  orang tuanya membawanya pulang dari sekolah, karena rupanya tak ada sesuatu yang tersisa baginya di sekolah. Orang tua Majnun memanggil dokter, tabib, peramal, pesulap, dan mencurahkan uang di kaki  mereka  sambil  memohon  agar  Majnun  dibebaskan  dari  memikirkan  Laila.

etapi  apa  yang dapat  mereka  lakukan?  “Lukman  [tabib  besar  pada  masa  silam]  sekalipun,  tidak  memiliki  obat untuk menyembuhkan sakit karena cinta.”

Tak  seorang  pun  mampu  menyembuhkan  pasien  cinta.  Teman-teman  datang,  para  kerabat datang, pemberi semangat datang, penasihat ahli datang; semua mencoba sebaik mungkin untuk melenyapkan Laila dari pikiran Majnun, tetapi sia-sia. Seseorang datang dan berkata kepadanya, “Hai  Majnun,  mengapa  engkau  sedih  atas  perpisahan  dari  Laila?  Ia  tidak  cantik.

Aku  dapat menunjukkan  kepadamu  seribu  gadis  yang  lebih  cantik  dan  lebih  menarik,  dan  engkau  dapat memilih  salah  satu  di  antara  mereka.”  Majnun  menjawab  “Untuk  melihat  kecantikan  Laila,
diperlukan mata Majnun.”

Ketika   semua   upaya   tak   tersisa   untuk   dilakukan,   orang   tua   Majnun   bermaksud   mencari perlindungan Ka’bah sebagai upaya terakhir. Mereka membawa Majnun berziarah ke Ka’bat-ullah. Ketika mereka sampai ke dekat Ka’bah terjadi kerumunan besar untuk melihat mereka. Orang tua itu mendekat ke Ka’bah dan berdoa, “Ya Allah, Engkau Mahapengasih dan Mahapenyayang, maka ridhailah  anak  kami  satu-satunya,  agar  hati  Majnun  terbebas  dari  derita  cintanya  kepada  Laila.” Semua  orang  mendengarkan  doa  itu  dengan  penuh  perhatian,  dan  ingin  tahu  apa  yang  akan dikatakan  Majnun.  Kemudian  orang  tua  itu  berkata  kepada  Majnun,  “Anakku, berdoalah  agar cintamu  kepada  Laila  dilenyapkan  dari  hatimu.”  Majnun  menjawab,  “Apakah  aku  akan  bertemu dengan Laila bila aku berdoa?” Dengan sangat kecewa mereka menjawab, “Berdoalah, anakku, apapun   yang   engkau   kehendaki.”   Maka   Majnun   mendekat   ke   Ka’bah   dan   berkata,   “Aku menginginkan  Laila,”  dan  semua  orang  yang  hadir  berkata,  “Amiin.”  “Dunia  mengumandangkan keinginan pecinta.”

Setelah  mencari  segala  cara  untuk  menyembuhkan  Majnun  dari  kegilaannya  terhadap  Laila, akhirnya mereka berpikir bahwa cara terbaik adalah mendekati kedua orang tua Laila, karena ini merupakan harapan terakhir untuk menyelamatkan hidup Majnun. Mereka mengirim pesan kepada orang  tua  Laila  yang  berlainan  agama,  “Kami  telah  melakukan  semua  yang  kami  bisa  untuk melepaskan  Laila  dari  pikiran  Majnun,  tetapi  sejauh  ini  tak  berhasil,  dan  tak  ada  harapan  untuk berhasil  kecuali  satu  hal,  yaitu  menikahkan  Majnun  dengan  Laila.

”  Mereka  membalas  dengan berkata, “Meskipun hal ini akan membuat kami dibenci oleh orang-orang kami, tetapi rupanya Laila
tak  dapat  melupakan  Majnun  barang  sesaat,  dan  sejak  kami mengeluarkannya  dari  sekolah,  ia terus  bersedih  setiap  hari.  Karena  itu  kami  tidak  keberatan  untuk  menikahkan  Laila  dengan Majnun, dengan satu syarat yaitu Majnun harus bertindak waras.”

Mendengar  itu,  orang  tua  Majnun  sangat  bergembira  dan  minta  kepada  Majnun  agar  bersikap wajar agar orang tua Laila tidak menyangka bahwa ia gila. Majnun setuju untuk melakukan apapun yang  dikehendaki  orang  tuanya  asal  diperbolehkan  menemui  Laila.  Sesuai  dengan  adat  Timur, prosesi  pernikahan  dilakukan  di  rumah  pengantin  wanita,  dan  di  sana  tempat  duduk  khusus disediakan  bagi  pengantin  laki-laki  yang  ditutup  dengan  rangkaian  bunga.

Namun,  seperti  kata orang Timur, Allah tidak suka kepada pesaing cinta, maka takdir tidak memberi kedua orang itu kebahagiaan  atas  kebersamaan.  Anjing  yang  biasanya  mengikuti  Laila  ke  sekolah,  kebetulan memasuki ruang tempat pasangan itu duduk. Ketika Majnun melihat anjing itu, emosinya meledak; ia  tidak  dapat  duduk  di  kursi  tinggi  sambil  melihat  anjing.

Ia  berlari  kepada  anjing  itu,  mencium kakinya  dan  mengalungkan  rangkaian  bunga  ke  leher  anjing  itu.  Terlihat  jelas  bahwa  Majnun memuja anjing itu. “Debu di tempat tinggal kekasih adalah tanah Ka’bah bagi pecinta.” Kelakuan itu sepintas membuktikan bahwa ia gila.

Karena bahasa cinta itu sampah bagi orang tanpa cinta, maka perbuatan Majnun dipandang oleh mereka  yang  hadir  sebagai  ketololan. Mereka  semua  sangat  kecewa,  orang  tua  Laila  menolak untuk menikahkan anaknya, dan Majnun dibawa kembali pulang.

Pernyataan  kecewa  itu  membuat  orang  tua  Majnun  kehilangan  harapan,  dan  mereka  tidak  lagi mengawasinya  karena  melihat  bahwa  hidup  atau  mati,  keduanya  sama  saja.  Hal  ini  memberi kebebasan kepada Majnun untuk berkelana ke kota mencari Laila, bertanya kepada setiap orang untuk menunjukkan tempat Laila. Kebetulan ia bertemu dengan pengantar surat yang membawa surat-surat  di  punggung  unta.  Ketika  Majnun  menyanyakan  alamat  Laila,  orang  itu  menjawab, “Orang tuanya telah meninggalkan negeri ini dan sekarang tinggal seratus mil dari sini.” Majnun memohon  kepadanya  untuk  menyampaikan  pesan  kepada,  dan  dijawab, “Dengan  senang  hati.”
Namun  ketika  Majnun  mengucapkan  pesan  itu,  ia  perlu  waktu  yang  amat  sangat  lama.  “Pesan cinta tidak mengenal akhir.”

Pengantar  surat  itu  separo  menertawakan  dan  separo  bersimpati  kepada  ketulusan  cintanya. Meskipun  Majnun  yang  berjalan  bersama  untanya,  merupakan  teman  baginya  dalam  perjalanan panjang,   tetapi   karena   kasihan,   ia   berkata,   “Engkau   telah   berjalan   sepuluh   mil   dengan menyampaikan    pesanmu    itu kepadaku;    berapa    jauh    yang    harus    kutempuh    untuk menyampaikannya kepada Laila? Kini pergilah, aku akan menyampaikannya.

” Kemudian Majnun berjalan  kembali,  tetapi  sebelum  berjalan  seratus  meter,  ia  berputar  balik  dan  berseru,  “Hai kawanku  yang  baik,  aku  lupa  mengatakan  beberapa  hal  yang  engkau  dapat  menyampaikannya kepada Laila.” Ketika pesan itu disampaikan, ia telah menempuh sepuluh mil lagi. Pengantar surat itu berkata, “Aku kasihan kepadamu, kembalilah, engkau telah berjalan sangat jauh. Bagaimana aku dapat mengingat semua pesan yang engkau sampaikan? Bagaimana pun, aku akan berusaha  sebaik-baiknya.

Kini kembalilah, engkau sudah sangat jauh dari rumahmu.” Majnun berjalan balik beberapa  meter,  dan  lagi-lagi  ia  kembali  ingat  sesuatu  untuk  disampaikan  kepada  pembawa pesan, lalu mengejarnya. Begitu seterusnya hingga ia sendiri tiba di tempat yang dituju.

Pengantar  surat  itu  kagum  kepada  cinta  yang  tulus,  dan  berkata,  “Engkau  telah  tiba  di  tanah tempat  Laila  tinggal.  Kini  tinggallah  di  masjid  runtuh  ini.  Ini  masih  luar  kota.  Bila  engkau  pergi bersamaku ke kota mereka akan menyiksamu sebelum engkau bertemu Laila. Sebaiknya engkau beristirahat  di  sini  sekarang,  karena  engkau  telah  berjalan  jauh,  dan  aku  akan  menyampaikan pesanmu kepada Laila ketika bertemu dengannya.” “Orang yang mabuk cinta tak mengenal waktu atau ruang.”

Majnun patuh, dan ingin beristirahat, tetapi gagasan bahwa ia berada di kota tempat tinggal Laila membuatnya bertanya-tanya ke arah mana ia meregangkan kakinya: utara, selatan, timur, barat, dan berpikir, “Andai Laila berada di sisi ini, aku akan tidak sopan bila meregangkan kakiku ke arah sana. Maka sebaiknya aku menggantung kaki dengan tali dari atas, karena pasti ia tidak di sana.”

“Ka’bah  seorang  pecinta  adalah  tempat  tinggal  kekasihnya.”  Ia  merasa  haus,  dan  tak  dapat memperoleh air kecuali air hujan yang terkumpul di dalam bak yang tak digunakan.

Ketika pengantar surat memasuki rumah Laila, ia melihat dan berkata kepada Laila, “Aku harus bersusah payah untuk dapat berbicara kepadamu. Pecintamu, Majnun, seorang pecinta yang tiada bandingannya  di  dunia,  mengirimkan  pesan  untukmu,  dan  ia  terus  berbicara  di  sepanjang perjalanan dan ia berjalan kaki sejauh kota ini.” Laila berkata, “Demi langit, kasihan Majnun! Apa jadinya dia.

” Ia bertanya kepada perawat tuanya, “Bagaimana seorang yang berjalan seratus mil tanpa berhenti?” Perawat itu berkata, “Orang itu pasti mati.” Laila berkata, “Apakah ada obatnya?” Dijawab,  “Ia  harus  minum  air  hujan  yang  terkumpul  selama  setahun  dan  sudah  diminum  ular. Kemudian kakinya harus diikat dan digantung di udara dengan kepala di bawah dalam waktu yang lama.    Ini    mungkin    menyelamatkan    nyawanya.”    Laila    berkata,    “Oh,    tetapi    betapa    sulit mendapatkannya!” Allah, yang Dia sendiri adalah cinta, adalah pembimbing Majnun, dan karena itu semua yang datang kepada Majnun adalah yang terbaik baginya. “Sesungguhnya cinta adalah penyembuh dari lukanya sendiri.”

Pagi  harinya  Laila  menyisihkan  makanannya,  dan  mengirimkannya  secara  sembunyi-sembunyi melalui  pelayan  yang  dipercaya,  bersama  dengan  pesan  untuk  Majnun  bahwa  Laila  rindu  untuk bertemu dengannya sebesar Majnun merindukannya, yang berbeda hanya rantai yang mengikat. Segera setelah ia memperoleh kesempatan, ia akan datang seketika.

Pelayan  itu  pergi  ke  masjid  runtuh  dan  melihat  dua  orang  duduk  di  sana,  yang  satu  tak  peduli dengan sekelilingnya, yang lain orang gendut dan besar. Ia berpikir, Laila tidak mungkin mencintai seorang pemimpi karena ia sendiri tak tertarik. Namun untuk meyakinkan, ia bertanya, siapa yang bernama Majnun.

Majnun tenggelam dalam pikirannya sendiri dan jauh dari perkataan itu, tetapi lelaki  yang  lain,  yang  kelelahan  bekerja,  sangat  senang  melihat  keranjang  makanan  di  tangan pelayan itu, dan berkata, “Siapa yang kau cari?” Dijawab, “Aku disuruh memberikan makanan ini kepada Majnun.

Apakah anda Majnun?” Ia menjulurkan tangannya untuk menerima keranjang itu dan  berkata,  “Akulah  yang  engkau  cari,”  dan  bercanda  dengan  pelayan  itu,  dan  pelayan  itu senang.

Ketika  pelayan  itu  kembali,  Laila  bertanya,  “Apakah  engkau  berikan  makanan  itu  kepadanya?” Dijawab, “Ya, aku memberikannya.” Kemudian setiap hari Laila mengirim porsi yang lebih besar dari  makanannya  kepada  Majnun,  yang  diterima  dengan  sukacita  oleh  lelaki  gendut  itu  ketika istirahat  dari  kerja.  Suatu  hari  Laila  bertanya  kepada  pelayannya,  “Engkau  tak  pernah  bercerita apa yang dikatakannya dan bagaimana ia makan.

” Dijawab, “Ia berkata bahwa ia sangat berterima kasih  dan  sangat  menghargai  pemberian  itu.  Bicaranya  sangat  menyenangkan.  Anda  tak  perlu khawatir,  ia  menjadi  semakin  gendut  setiap  hari.”  Laila  berkata,  “Tetapi  Majnun-ku  tak  pernah gendut,  ia  tak  bisa  gemuk,  dan  ia  berpikir  terlalu  dalam  untuk  bisa  berkata  yang  manis  kepada orang  lain.  Ia  terlalu  sedih  untuk  berkata.

”  Seketika  Laila  curiga  bahwa  makanannya  telah diberikan kepada orang lain. ia berkata, “Adakah orang lain di sana?” Pelayan menjawab, “Ya, ada satu  orang  lain  yang  duduk  di  sana,  tetapi  ia  tampaknya  berada  di  dalam  dirinya  sendiri.  Ia  tak pernah memperhatikan siapa yang datang dan pergi, dan ia tidak mendengarkan orang lain. Tidak mungkin  ia  adalah  orang  yang  anda  cintai.”  Laila  berkata,  “Kupikir  dialah  orangnya.  Sayang, selama ini engkau memberikan makanan itu kepada orang lain! Baiklah, untuk meyakinkan, hari ini aku akan meletakkan pisau di atas piring, bukan makanan, dan katakan kepada orang yang kau beri makanan, ‘Laila memerlukan beberapa tetes darahmu untuk menyembuhkan penyakitnya.'”

Seperti  biasa,  ketika  pelayan  itu  datang,  lelaki  gendut  itu  menyambut  dengan  gembira  untuk mengambil makanannya, tetapi ia terkejut ketika melihat pisau, bukan makanan. Pelayan berkata bahwa  beberapa  tetes  darah  Majnun  diperlukan  untuk  menyembuhkan  penyakit  Laila.  Lelaki  itu berkata, “Bukan, aku bukan Majnun. Dialah Majnun. Mintalah kepadanya.

” Dengan lugu pelayan itu  datang  kepadanya  dan  berkata  keras,  “Laila  membutuhkan  beberapa  tetes  darahmu  untuk mengobatinya.”  Majnun  segera  mengambil  pisau  itu  dan  berkata,  “Betapa  beruntungnya  aku bahwa  darahku  bermanfaat  bagi  Laila.  Ini  tak  berarti  apa-apa,  bahkan  hidupku  pun  akan kukorbankan  untuk  menyembuhkannya,  aku  akan  merasa  beruntung  dalam  memberikannya.
“Apapun  yang  dilakukan  pecinta  bagi  kekasihnya,  itu  tak  pernah  terlalu  besar.”  Ia  menusuk tangannya  di  beberapa  tempat,  tetapi,  kelaparan  berbulan-bulan  telah  menghabiskan  darahnya, yang  tersisa  hanya  kulit  dan  tulang.  Ketika  banyak  tempat  sudah  ditusuk,  dengan  susah  payah setetes darah dapat keluar. Ia berkata, “Itulah yang tersisa. Ambillah.” “Cinta berarti penderitaan,
tetapi pecinta sendiri berada di atas semua penderitaan.”

Kedatangan Majnun lama-lama diketahui banyak orang, dan ketika orang tua Laila tahu, mereka berpikir, “Tentu Laila akan kehilangan pikiran bila ia mencari Majnun.” Maka mereka memutuskan untuk pindah ke luar kota untuk beberapa lama, mengira bahwa Majnun akan pulang ketika tidak menjumpai Laila tak ada di tempatnya. Sebelum berangkat, Laila mengirim pesan kepada Majnun, “Kami ke luar kota untuk sementara waktu, dan aku sangat sedih tak dapat menjumpaimu. Satu- satunya kesempatan bertemu adalah bila kita bertemu di tengah perjalanan, bila engkau berangkat terlebih dulu dan menungguku di [gurun] Sahara.”

Majnun dengan senang hati berangkat ke Sahara, dengan harapan besar untuk bertemu dengan Laila sekali lagi. Ketika rombongan tiba di gurun dan berhenti sejenak di sana, pikiran orang tua Laila  sedikit  lega,  dan  mereka  melihat  bahwa  Laila  juga  lebih  bahagia  atas  perubahan  itu, sebagaimana mereka kira, tanpa mengetahui alasan sebenarnya.

Laila  pergi  berjalan-jalan  di  Sahara  dengan  wanita  pelayannya,  dan  tiba-tiba  datanglah  Majnun, yang matanya telah lama mengawasi kedatangannya. Laila datang dan berkata, “Majnun, aku di sini.”  Tiada  daya  di  dalam  lidah  Majnun  untuk  mengungkapkan  kegembiraannya.

Ia  memegang tangan   Laila   dan   merapatkannya   ke   dadanya,   sambil   berkata,   “Laila,   engkau   tak   akan meninggalkan aku lagi?” Dijawab, “Majnun, aku hanya dapat datang sebentar. Jika aku di sini lebih lama, orang-orangku akan mencariku dan hidupmu tidak aman.” Majnun berkata, “Aku tak peduli dengan  hidupku.  Engkaulah  hidupku,  tinggallah,  jangan  tinggalkan  aku  lagi.”  Laila  berkata, melepaskan  tangan  Laila  dan  berkata, “Tentu, aku percaya padamu.” Maka Laila meninggalkan Majnun dengan berat hati, dan Majnun yang telah begitu lama hidup di atas daging dan darahnya sendiri, tak dapat lagi berdiri tegak; ia jatuh ke belakang menimpa sebatang pohon yang kemudian menopangnya, dan ia tetap di sana, hidup hanya di atas harapan.

Tahun-tahun  berlalu  tubuh  Majnun  yang  telah  setengah  mati  terkena  pengaruh  panas,  dingin, hujan,  salju  dan  badai.  Tangan  yang  memegangi  cabang  pohon  menjadi  cabang  itu  sendiri, tubuhnya  menjadi  bagian  dari  pohon.  Laila  tak  merasa  senang  dalam  perjalanan,  dan  orang  tuanya  kehilangan  harapan  akan  hidupnya.

Laila  hanya  hidup  atas  satu  harapan,  agar  ia  dapat memenuhi janjinya kepada Majnun ketika berpisah dan berkata, “Aku akan kembali.” Ia bertanya- tanya  apakah  Majnun  hidup  atau  mati,  at  untuk  pergi,  atau  apakah  telah  dibawa  pergi  hewan Sahara.

Ketika   mereka   kembali,   mereka   berhenti   di   tempat   yang   sama.   Hati   Laila   penuh   dengan kegembiraan dan kesedihan, harapan dan kekhawatiran. Ketika ia mencari tempat yang dulu, ia bertemu seorang penebang kayu yang berkata kepadanya, “Hai, jangan pergi ke sana. Ada hantu di sana.” Laila berkata, “Seperti apa?” Dijawab, “Sebuah pohon, tetapi juga seorang manusia, dan ketika  aku  menebang  sebuah  cabang  pohon  itu  dengan  kapakku,  aku  mendengar  ia  berkata dengan rintihan yang dalam, ‘O Laila.'” Mendengar ini membuat Laila terharu tak terperikan.

Ia berkata bahwa ia akan ke sana, dan ketika telah  dekat  ia  melihat  Majnun  telah  hampir  berubah menjadi pohon.  Daging dan darahnya telah sirna,  hanya  kulit  dan  tulang  yang  tersisa.  Cara  kontaknya  dengan  pohon  membuat  ia  mirip dengan  cabang  pohon.  Laila  memanggilnya  keras-keras,  “Majnun!”  Dijawab,  “Laila!”  Ia  berkata,
“Aku datang seperti yang kujanjikan, hai Majnun.

”  Majnun  menjawab,  “Aku  Laila.”  Laila  berkata, “Majnun,  pakailah  akalmu.  Aku-lah  Laila.  Lihatlah  aku.”  Majnun  berkata,  “Apakah  engkau  Laila? Kalau begitu, aku bukan,” dan ia meninggal. Melihat kesempurnaan cinta ini, Laila tak dapat hidup lagi barang sesaat. Ia meneriakkan nama Majnun kemudian jatuh dan mati.

“Sang kekasih adalah semua dalam semua, pecinta hanya menutupinya. Kekasih adalah semua yang hidup, dan pecinta adalah benda mati.”

Filed under: Hikayat Cinta, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Dalam suatu kesempatan, saya pernah melihat seorang auditor keamanan jaringan melalukan penetration test (pen-test) terhadap suatu sistem IT. Read more...

Mau Bisnis Pulsa???

server
Bisnis Server Pulsa, mo bisnis server pulsa elektrik all operator tapi bingung cara mulainya? Lanjuuut >>

Pulsa Murah Proses Cepat

supplier pulsa
Stok Pulsa All Operator, Cari Pulsa Murah Disini Tempatnya... Lanjuuut >>

Tips Tawar Menawar Harga Rumah

Info Property
Ada seni & trik tersendiri yang diperlukan orang saat jual beli barang. Yakni, bagaimana tawar-menawar harga.

Indo Flasher

ufs3
Cara Mudah Belajar Service Handphone dengan Ahlinya ada di sini nih..
Baca Selengkapnya »

Elektronik HOBY

Elektronik Hoby
Cara Mudah Belajar ELEKTRONIK dengan Ahlinya ada di sini nih..
Baca Selengkapnya »
Master Digital

bisinis mlm
Server Pulsa

Video Tutorial IM Mau..???

"Video Tutorial" Desaind WebSite & Menghasilkan PASIVE INCOME Mau??? Password aksess :allnitecafe
Klik Disini>>

RSS Bedah Tentang Server Pulsa

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Download Skematik Elektronik

Pengunjung ke :

  • 429,983 Pengunjung
free counters

Tukeran Link Yuk Taruh Script Ini Di Blog anda & saya akan Link Balik

<a title="allnitecafe" href="https://allnitecafe.wordpress.com/" target="_blank"> <img src="https://allnitecafe.files.wordpress.com/2009/08/master-digital.gif" border="0" alt="allnitecafe" /></a>
Master Digital Software Pulsa Elektrik
%d blogger menyukai ini: