ALLNiteCafe Site

Ikon

Allnitecafe Global Tips & Guide! | Tips Chatting MIRC & Yahoo! Messenger | Hacking | Browsing | All The best Solution. It's all here!

MORAL CINTA

Ada satu moral, yaitu cinta memancar dari penyangkalan diri dan berkembang dalam perbuatan baik. Orang yang kolot berkata, “Ini baik, itu buruk. Ini benar, itu salah,” tetapi bagi seorang Sufi sumber semua perbuatan baik adalah cinta. Orang mungkin berkata bahwa cinta pun merupakan sumber perbuatan buruk, tetapi tidak demikian; sumbernya adalah tiadanya cinta.

Amal  baik  kita  terbuat  dari  cinta,  dan  dosa-dosa  kita  disebabkan  oleh  tiadanya  cinta.  Cinta mengubah  dosa  menjadi  kebaikan.  Tanpa  cinta,  perbuatan  baik  tak  bermakna.  Ketika  seorang wanita yang dituduh telah melakukan dosa dibawa kepadanya, nabi Isa berkata, “Dosa-dosanya telah diampuni, karena ia sangat mencintai.” Surga menjadi indah karena cinta, dan hidup menjadi neraka tanpa cinta. Cinta dalam kenyataannya menghasilkan keserasian dalam hidup seseorang di dunia dan kedamaian di akhirat.

Seorang  gadis  penari,  ketika  menyaksikan  dua  pemakaman  dari  balik  jendela,  berkata  kepada pemuda kekasihnya, “Yang pertama dari keduanya  adalah jiwa yang telah pergi ke surga, yang kedua  adalah  jiwa  yang  telah  pergi  ke  neraka,  aku  yakin.”  Pemuda  itu  berkata,  “Bagaimana engkau, seorang gadis penari, pura-pura tahu sesuatu yang hanya diketahui orang suci?” Gadis itu menjawab,  “Aku  tahu  dari  kenyataan  sederhana  bahwa  orang  yang  mengikuti  pemakaman pertama  semua  bermuka  sedih,  bahkan  banyak  yang  meneteskan  air  mata;  sedangkan  orang- orang  pada  pemakaman  kedua  semuanya  gembira.  Yang  pertama  membuktikan  bahwa  ia mencintai  dan  memperoleh  kasih  sayang  dari  banyak  orang  sehingga  tentu  ia  berhak  masuk surga; sedangkan yang kedua tentu tak menyukai seorang pun karena tak ada yang mengangisi kepergiannya.”

Oleh karena itu, sebagaimana dunia ini merupakan neraka bagi orang tanpa cinta, neraka yang sama  akan  menjadi  nyata  di  dunia  berikutnya.  Bila  jiwa  dan  hati  tak  mampu  mencintai,  maka meskipun  ia  seorang  kerabat  atau  teman  terdekat,  ia  adalah  orang  asing.  Ia  tak  mempedulikan mereka, dan tidak menyukai kebersamaan dengan mereka.

Mudah sekali untuk mulai mencintai, dan inilah yang dilakukan semua orang. Tetapi sangat sulit untuk  memelihara  cinta,  karena  cinta  membuka  mata  pecinta  untuk  melihat  melalui  kekasihnya, meskipun  ia  menutup  mata  pecinta  terhadap  semua  yang  lain.  Mula-mula,  semakin  pecinta mengetahui  kekasihnya,  semakin  banyak  ia  melihat  cacat  maupun  kebaikannya,  yang  secara alami  pada  awal  cinta  menjatuhkan  kekasih  dari  ketinggian  di  mana  pecinta  menempatkan kekasihnya.

Hal  lain  adalah  bahwa  di  samping  atribut-atribut  yang  memikat  pecinta  satu  sama  lain,  terdapat kecenderungan pada masing-masing untuk menghancurkan. Ego selalu memainkan siasat dalam membawa dua hati bersatu dan kemudian memisahkannya kembali. Karena itu di dunia ini hampir semua  orang  berkata,  “Aku  cinta,”  atau  “Aku  telah  mencintai,”  tetapi  sangat  jarang  cinta  yang senantiasa meningkat sejak dimulai. Bagi pecinta sejati, sungguh aneh mendengar orang berkata, “Aku telah mencintinya, tetapi kini aku tak mencintainya lagi.”

Cinta  harus  secara  mutlak  bebas  dari  pementingan  diri  sendiri,  karena  bila  tidak,  ia  tak  akan menghasilkan cahaya yang benar. Bila api tak menyala, ia tak memberi cahaya, hanya asap yang keluar darinya, asap yang menyebalkan. Demikianlah cinta yang mementingkan diri sendiri; baik cinta kepada manusia maupun kepada Allah, ia tak berbuah karena meskipun tampak seperti cinta kepada  orang  lain  maupun  kepada  Allah,  ia  sesungguhnya  adalah  cinta  kepada  diri  sendiri. Gagasan yang masuk ke dalam pikiran seorang pecinta seperti, “Jika engkau mau mencintaiku, aku akan mencintaimu, tetapi bila engkau tak mencintaiku, aku pun tak akan mencintaimu,” atau  “Aku mencintaimu sebesar cintamu kepadaku,” dan semua pernyataan serupa, adalah pernyataan cinta yang palsu.

Peran yang dijalankan seorang pecinta dalam hidup lebih sulit daripada peran kekasih. Tirani dari pihak  kekasih  dipandang  dengan  toleran  dan  sabar  oleh  pecinta  sebagai  sesuatu  yang  alami dalam   jalur   cinta.   Hafiz   berkata   tentang   menyerah   kepada   kehendak   kekasih:   “Aku   telah memecahkan gelas kehendakku ketika berbenturan dengan kehendak kekasihku. Apa yang dapat dilakukan bila hatiku takluk oleh kekasih yang keras hati, yang mengikuti kehendaknya sendiri dan mengabaikan  kehendak  pecintanya?”  Itulah  hasil  studi  mengenai  sifat  pecinta  dan  kekasihnya, bahwa  sang  kekasih  melakukan  apa  yang  diinginkan,  sedangkan  pecinta  hidup  dalam  cinta.

Penyimpangan  dari  keadaan  itu  hanya  terjadi  pada  kematian  pecinta.  Satu-satunya  cara  ialah penyerahan diri, baik dalam hal kekasih duniawi maupun Kekasih ilahi.

Pecinta tak pernah mengeluh mengenai ketidak-adilan terhadap dirinya, dan ia menyembunyikan setiap kesalahan kekasihnya. Pecinta selalu berusaha agar tidak menyakiti perasaan kekasihnya dalam setiap perbuatannya.

Meskipun  cinta  adalah  cahaya,  ia  menjadi  kegelapan  bila  hukumnya  tidak  dipahami.  Seperti  air yang dapat membersihkan semua benda, air itu menjadi lumpur bila bercampur tanah. Demikian pula  cinta,  bila  tidak  dipahami  dengan  benar  dan  bila  salah  arah,  ia  menjadi  kutukan,  bukan berkah.Ada  lima  dosa  utama  terhadap  cinta,  yang  mengubah  madu  menjadi  racun.  Pertama,  bila  demi cintanya   pecinta   merampas   kebebasan   dan   kebahagiaan   kekasihnya.   Kedua,   bila   pecinta membiarkan kecemburuan atau kepahitan dalam cinta. Ketiga, bila pecinta ragu, tak percaya, dan curiga   kepada   orang   yang   dicintainya.   Keempat,   bila   cinta   menyusut   akibat   membiarkan kesedihan, masalah, kesulitan, dan penderitaan yang datang dalam jalur cinta. Kelima, bila pecinta memaksakan kehendaknya sendiri, bukan menyerah kepada kehendak kekasih. Itu semua adalah penyebab   alami   dari   petaka   dalam   hati   yang   mencinta,   seperti   penyakit   bagi   tubuh   fisik. Lenyapnya kesehatan membuat hidup menyedihkan, demikian pula lenyapnya cinta membuat hati tertekan. Hanya pecinta yang menghindari kesalahan di atas akan memperoleh manfaat dari cinta, dan tiba dengan selamat di tempat tujuannya.

Cinta terletak di dalam pelayanan. Hanya sekedar melakukan, bukan demi ketenaran atau nama, bukan mengharap penghargaan atau terima kasih, adalah pelayanan cinta.

Pecinta  menunjukkan  kebaikan  dan  kemurahan  kepada  kekasihnya.  Ia  melakukan  apapun  yang dapat  dilakukannya bagi  kekasihnya  dalam     bentuk    membantu,  melayani, berkorban, menenangkan,  atau  menyelamatkan,  tetapi  menyembunyikan  semuanya  dari  dunia,  bahkan  dari kekasihnya.

Bila kekasih melakukan sesuatu  baginya ia melebih-lebihkannya, mengidealkannya, membuat pasir menjadi bukit. Ia mengambil racun dari tangan kekasih sebagai gula,  dan  derita  cinta  dalam  luka  hatinya  sebagai  kegembiraan.  Dengan  memperbesar  dan mengidealkan  apapun  yang  dilakukan  kekasih  terhadapnya  dan  dengan  melupakan  spa  yang dilakukannya bagi kekasihnya, ia mengembangkan penghargaan diri sendiri, yang menghasilkan semua kebaikan dalam hidupnya.

Kesabaran,  pengorbanan,  penyerahan,  kekuatan,  dan  pengabdian  dibutuhkan  dalam  cinta,  dan tiada  sesuatu  kecuali  harapan,  hingga  ia  bersatu  dengan  kekasihnya.  Pengorbanan  dibutuhkan dalam cinta untuk memberi semuanya: kekayaan, harta milik, tubuh, hati, dan jiwa. Tiada lagi “Aku” yang tersisa, yang ada hanya “engkau”, sampai “engkau” itu berubah menjadi “aku”. Di mana ada cinta  di  situ  ada  kesabaran,  di  mana  tiada  kesabaran  di  situ  tak  ada  cinta.  Pecinta  mengambil harapan sebagai sari dari agama cinta, karena harapan adalah satu-satunya hal yang membuat

api  hidup  tetap  menyala.  Bagi  pecinta,  harapan  adalah  tali  keselamatan  di  laut.  “Brahma mengumpulkan madu dari semua hal di dunia, dan madu itu adalah harapan.”

Menurut  hukum  alam,  perpisahan  diperlukan  meskipun  ini  paling  menyakitkan.  Bila  dua  hati bersatu dalam cinta, perpisahan menunggu mereka. Perpisahan harus diterima. Seorang penyair Persia  berkata,  “Andai  aku  tahu  kepedihan  akibat  perpisahan  dalam  cinta,  aku  tak  akan  pernah membiarkan cahaya cinta menyala di dalam hatiku.” Seperti yang dikatakan orang Jepang, Tuhan itu cemburu terhadap semua selain diri-Nya. Siapa pun yang engkau cintai, ruh Allah secara alami akan memisahkannya, cepat atau lambat.

Gagasan ini diungkapkan secara simbolik dalam cerita India, Indra Sabha.

Sabzpari,  seorang  peri  yang  pernah  menari  di  depan  Indra,  Raja  Langit,  tertarik  oleh  Pangeran Gulfam,  seorang  manusia  bumi,  ketika  peri  itu  terbang  di  atas  istana.  Pelayannya,  Dewa  hitam, membawa  Gulfam  atas  perintahnya,  dari  bumi  ke  langit.  Gulfam  mula-mula  tidak  suka  dengan tempat asing itu, tetapi kemudian cinta Sabzpari menariknya begitu kuat hingga Gulfam hidup di dalam  cintanya.  Sabzpari  harus  berada  di  balairung  istana  setiap  malam  untuk  menari  dan menghibur Raja Indra, tetapi karena cintanya terhadap Gulfam, ia beberapa kali tidak hadir, dan setiap  orang  bertanya-tanya  mengapa  ia  tidak  datang.  Namun  kepergiannya  setiap  malam  ke istana Indra membuat Gulfam curiga jangan-jangan ada orang lain yang terpesona oleh Sabzpari. Hal ini berkali-kali ditanyakannya kepada Sabzpari, dan setiap kali tidak dijawab, hingga akhirnya ia   menjadi   marah   dan   Sabzpari   berpikir   untuk   tidak   lagi   menyembunyikannya.   Mendengar penjelasan  itu,  Gulfam  minta  Sabzpari  agar  membawanya  ke  balairung  istana  Indra.

Sabzpari berkata, “Tak pernah ada laki-laki yang ke sana, dan bila Indra melihatmu maka hari-hari indahmu dalam cinta dan kebahagiaan akan berakhir. Kita pasti harus berpisah, dan aku tak tahu apa yang akan dilakukannya terhadapmu.”

Gulfam  berkata,  “Tidak.  Itu  hanya  kata  perempuan.  Engkau  mungkin  bercinta  dengan  beberapa Dewa,  dan ingin menyembunyikannya dengan berkata demikian.” Sabzpari sangat sedih karena melihat dirinya dalam keadaan tak berdaya. Karena pengaruh perkataan yang begitu tajam seperti anak panah itu, tanpa berpikir lagi, dibawanya Gulfam ke istana Indra, sambil berkata, “Apa pun yang akan terjadi, biarlah terjadi.”

Sabzpari  membawanya  ke  balairung  istana,  menyembunyikannya  di  balik  lipatan  pakaian  dan sayapnya. Dewa Merah mencium kehadiran manusia di balairung, dan setelah melihat sekeliling, ia menemukan Sabzpari menari dengan sangat baik di hadapan Indra, sambil menyembunyikan Gulfam  di  belakangnya.

Dengan  kerendahan,  ia  membawanya  menghadap  Indra,  Dewa  segala Langit, yang duduk di singgasana dengan segelas anggur di tangannya, matanya merah dengan anggur, dan menampakkan kebesaran. Ketika Indra melihat bahwa seorang manusia dibawa ke puncak langit, ia bangkit dengan murka besar dan berkata kepada Sabzpari, “Hai, peri yang tak tahu malu, alangkah beraninya engkau membawa manusia ke puncak langit, sedangkan tak satu pun  makhluk  bumi  yang  diijinkan  datang?”  Dewa  Merah  berkata,  “Yang  Mulia,  cintanya  kepada makhluk  bumi  telah  membuat  ia  tak  berbakti  kepada  tahta  langit  dan  membuatnya  gagal  dalam tugasnya kepada Yang Mulia.”

Sabzpari berkata kepada Gulfam, “Engkau melihat sendiri, kekasihku tercinta, apa akibat terhadap kita  dari  kekerasan  hatimu?”  Indra  berkata,  “Pisahkan  mereka  seketika,  agar  mereka  tak  dapat berkata-kata satu sama lain. Lemparkan manusia itu ke kedalaman bumi, dan robek sayap-sayap peri  itu  dan  penjarakan  ia  sampai  cintanya  kepada  Gulfam  terhapus  dari  hatinya.  Kemudian sucikan dia dari kelima unsur. Baru kemudian ia boleh datang lagi, bila ia diijinkan oleh kehendak dan ampunan dan kasihku.”

Simbolisme itu menceritakan Tuhan yang pencemburu. Indra berasal dari kata Andar atau Antar, yang   berarti   bagian   dalam,   ruh   terdalam,   yang   diidealkan   manusia   sebagai   Tuhan   Yang Mahaperkasa.  Peri  adalah  jiwa  yang  diciptakan-Nya  dari  keberadaan-Nya.  Tarian  peri  yang merupakan  pemujaan  terhadap-Nya,  sepengetahuan-Nya,  dalam  kehadiran-Nya,  adalah  satu- satunya hal yang diinginkan-Nya dari mereka. Dewa hitam adalah simbol kegelapan [Tamas dalam bahasa  Sanskrit].  Di  bawahnya,  jiwa  telah  membangun  bagi  dirinya  sebagai  rumah  dari  unsur bumi, yaitu tubuh fisik. Allah telah menciptakan dunia dari kegelapan.

Sabz  berarti  hijau,  simbol  air,  unsur  pertama  yang  membentuk  substansi  atau  materi.  Sabzpari berarti jiwa yang ditarik ke dalam tubuh material. Bila jiwa itu melibatkan diri di dalam tubuh fisik, yang  disimbolkan  dengan  Gulfam,  maka  jiwa  yang  terlibat  dalam  tubuh  itu  menjadi  tenggelam dalam  pengalaman-pengalaman  dunia,  dalam  cinta  dunia,  kegembiraan  dunia,  dan  kenikmatan dunia. Karena tugas jiwa dilupakan olehnya dengan memburu dunia, Dewa Merah [daya destruksi] yang    senantiasa    menyebabkan    perubahan    dengan    daya    destruksinya,    pada    akhirnya menyebabkan  perpisahan,  dan  kematian  merupakan  perpisahan  antara  tubuh  dan  jiwa.  Jiwa, penghuni  langit,  menjadi  tak  bersayap  akibat  kutukan  Ruh  tertinggi,  dan  berjalan  menuju  dunia sampai ia disucikan dari lima elemen yang merupakan alam bawah. “Sebelum seorang manusia dilahirkan kembali dari air dan dari ruh, ia tak layak memasuki kerajaan Allah,” demikian tertulis di dalam  Injil.  Baru  setelah  itu,  jiwa  terangkat  ke  atas  semua  pengaruh  duniawi  dan  menari selamanya di hadapan Indra, Dewa para dewa.

Akibat  cinta  adalah  derita.  Cinta  tanpa  derita,  bukanlah  cinta.  Pecinta  yang  tak  mengalami penderitaan cinta bukanlah pecinta. “Cinta macam apa itu yang tak mengakibatkan penderitaan? Bahkan bila seseorang mabuk cinta, itu bukan apa-apa.” Derita cinta adalah  kenikmatan pecinta, hidupnya.  Tanpa  derita,  itu  adalah kematiannya.  Amir,  seorang  penyair  Hindustan,  berkata, “Engkau  akan  mengingatku  setelah  aku  mati,  hai  derita  cintaku,  karena  aku  telah  memberimu tempat di dalam hatiku sepanjang hidupku, dan aku telah memberimu makan dengan daging dan darahku.”

Setiap orang dapat berbicara cinta dan mengaku mencintai, tetapi menahan ujian cinta dan menanggung derita cinta merupakan pencapaian pahlawan yang langka. Melihat derita cinta akan  membuat  orang  pengecut  lari  terbirit-birit.  Tiada  jiwa  yang  bersedia  menelan  racun  ini sebelum ia merasakan madu.

Orang yang mencintai karena tak berdaya adalah budak cinta, tetapi orang yang mencintai karena hal ini merupakan kegembiraannya, adalah raja cinta. Orang yang demi cinta mencintai seseorang gagal dalam menguasai cinta; orang yang dapat menutup hatinya dalam keadaan penuh dengan cinta meskipun tertarik oleh kekasihnya, adalah penakluk cinta.

Orang-orang  yang  menghindari  cinta  dalam  hidup  karena  takut  akan  deritanya,  mengalami kerugian  yang  lebih  besar  dari  pecinta,  yang  dengan  kehilangan  diri  memperoleh  semuanya. Orang tanpa cinta mula-mula kehilangan semua, hingga akhirnya diri mereka direnggut pula dari tangan  mereka.  Kehangatan  suasana  seorang  pecinta,  pesona  suara  dan  perkataannya,  semua datang dari kepedihan hatinya.

Hatinya tidak hidup sebelum mengalami kepedihan. Manusia tidak hidup bila ia hidup dengan tubuh dan pikiran, tanpa hati. Jiwa merupakan segala cahaya, tetapi semua kegelapan disebabkan oleh kematian hati. Kepedihan membuatnya hidup. Hati yang telah penuh dengan kepedihan, bila dimurnikan dengan cinta, menjadi sumber segala kebaikan. Semua perbuatan baik berasal darinya.

Rumi menyebutkan enam ciri pecinta: tarikan napas (keluhan) yang dalam, ekspresi sedang, mata berair, sedikit makan, sedikit bicara, sedikit tidur – semua menunjukkan isyarat derita dalam cinta. Hafiz berkata, “Semua kegembiraan dalam hidupku mereka akibat dari air mata yang tiada henti dan tarikan napas panjang sepanjang malam.”

Kesedihan  pecinta  itu  tiada  henti,  dalam  kehadiran  dan  dalam  kepergian  kekasihnya:  dalam kehadiran karena khawatir berpisah, dan dalam kepergian ke merindukan kehadirannya. Menurut sudut  pandang  mistik,  derita  cinta  adalah  dinamit  yang  memecahkan  hati,  meskipun  hati  itu sekeras  batu.  Bila  selubung  keras  yang  menutupi  cahaya  dari  dalam  itu  dipecah,  aliran  semua kegembiraan datang seperti mata air dari gunung.

Derita   cinta   pada   saatnya   akan   menjadi   kehidupan   dari   pecinta.   Sakit   dari   luka   hatinya memberinya kegembiraan yang tak dapat diberikan oleh apapun juga. Hati yang terbakar menjadi lampu  penerang  di  jalan  yang  ditempuh  pecinta,  meringankan  jalannya  sampai  ke  tujuan. Kenikmatan hidup itu membutakan, hanya cinta saja yang membersihkan karat dari hati, cermin dari jiwa.

Suatu  ketika  seorang  gadis  budak  yang  sedang  merapikan  tempat  tidur  seorang  Raja,  ingin mengalami  bagaimana  rasanya  tidur  di  ranjang  Raja.  Kehangatan  sinar  matahari,  angin  yang bertiup  lembut  melalui  jendela  di  kamar  itu,  bunga-bunga  dan  parfum  ditaburkan  di  lantai,  bau wangi  dupa  yang  dibakar  –  membuatnya  begitu  nyaman  hingga  ia  tertidur  segera  setelah meletakkan  kepalanya  di  atas  bantal.

Ia  tidur  terlelap  seperti  mati.  Ketika  raja  dan  permaisuri datang, mereka terkejut atas keberanian dan kekurangajaran budak itu. Raja membangunkannya dengan  sebuah  cambukan,  ditambah  dengan  dua  cambukan  lagi  agar  permaisuri  tidak  curiga. Budak   itu   terbangun   dalam   ketakutan   dan   berteriak   keras,   tetapi   akhirnya   ia   tersenyum. Senyumnya  lebih  menimbulkan  keheranan  pada  raja  dan  permaisuri  daripada  kesalahan  yang dilakukannya. Mereka bertanya mengapa ia tersenyum, dan ia menjawab, “Aku tersenyum karena berpikir bahwa kenikmatan dan kegembiraan atas tempat tidur ini telah memberiku kecenderungan untuk menikmatinya beberapa saat, dan hukumannya adalah cambukan. Kemudian aku bertanya- tanya,  karena  anda  mengalami  kenikmatan  tempat  tidur  ini  seumur  hidup,  hukuman  apa  yang harus anda bayar untuk itu kepada Allah, Raja dari segala Raja.”

Dalam kehidupan ini, setiap kenikmatan kecil harus dibayar dengan penderitaan yang jauh lebih besar. Karena itu seorang pecinta telah mengumpulkan semua derita sebagai tabungan, dan jalan yang ditempuhnya akan lebih nyaman sepanjang perjalanan dari bumi ke langit. Di sana ia akan menjadi kaya ketika banyak orang lain yang miskin.

Gambaran  para  penyair  Sufi  melukiskan  sifat  cinta,  pecinta,  dan  kekasih  dengan  kehalusan metafora, kerumitan, dan aturan dalam ekspresinya hingga puisi mereka menjadi gambaran nyata dari sifat manusia.

Pecinta   selalu   membayangkan   sebagai   korban   kekejaman   kekasih,   yang   tanpa   kompromi menyingkirkan  pesaing-pesaingnya,    tidak    memperhatikan    penderitan    pecintanya,tidak mendengarkan   himbaunnya,   dan   bila   ia   menuruti,   itu   hanyalah   sedikit   sekali   hingga   tidak menyembuhkan  tetapi  malah  membuat  penderitaan  makin  parah.  Pecinta  membiarkan  hatinya yang liar untuk dikasihani di depan kekasih, menempatkannya di telapak tangannya. Ia meletakkan hatinya di kaki sang kekasih yang memperlakukannya dengan dingin, sementara ia berseru, “Lebih lembut, kekasihku, yang lembut! Itu adalah hatiku, itu adalah hatiku.” Hati si pecinta mengeluarkan air  mata  darah.  Pecinta  menekan  hatinya,  mencegahnya  agar  tidak  berlari  kepada  kekasihnya. Pecinta itu mengeluh bahwa hatinya tak setia karena meninggalkannya dan pergi ke kekasihnya.
Cinta mengemis agar kekasih mengembalikan hatinya bila hati itu sudah tak digunakannya lagi. Tempat tinggal hati adalah di dalam pelukan kekasihnya.

Pecinta  itu  tidak  tenang,  gelisah,  dan  tak  bahagia  dalam  derita  perpisahan.  Malam  dan  siang berlalu, semuanya berubah kecuali kepedihan pecinta. Kepedihan cinta merupakan satu-satunya temannya di setiap malam dalam perpisahan. Pecinta bertanya kepada malam perpisahan yang lelah, “Di mana engkau akan berada ketika aku mati?” Pecinta mengharapkan datangnya kematian sebelum kedatangan kekasih. Ia memohon agar kekasihnya menunjukkan diri kepadanya sesaat

sebelum ia mati. Ia berdoa agar kekasihnya mengunjungi kuburannya, sekalipun bukan demi cinta, sekurang-kurangnya demi kehadiran.

Pecinta  hanya  mengharap  agar  sang  kekasih  memahaminya,  agar  mengetahui  seberapa  besar cintanya  dan  penderitaan  apa  yang  dialaminya.  Pecinta  senantiasa  berharap  agar  kekasihnya datang kepadanya, atau ia sendiri dipanggil kepada kekasihnya. Bahkan, melihat seorang utusan cinta  membuat  kekasihnya  marah.  Kebaikan  dan  keburukan  dunia  tak  berarti  apa-apa  bagi pecinta. Pecinta hanya mengeluh bila ketenangan, kesabaran, dan kedamaiannya dirampas, dan bila  ia  kehilangan  agama,  moral,  dan  Tuhannya.  Pecinta  terlihat  tanpa  topi  dan  sepatu,  dan dianggap gila oleh kawan-kawannya. Ia merobek pakaiannya dalam penderitaan. Ia terikat dengan rantai oleh kegilaannya. Ia telah kehilangan kehormatan di mata semua orang.

Luka dalam hati adalah mawar bagi pecinta, rasa sakit adalah keindahannya. Ia menangis agar dapat  meneteskan  air  asin  kepadanya  untuk  membuatnya  cerdas,  agar  ia  dapat  sepenuhnya menikmati  derita  yang  manis.  Pecinta  cemburu  kepada  perhatian  yang  dicurahkan  pesaing terhadap kekasihnya. Bila pecinta menceritakan kisah cintanya kepada kawan-kawannya, mereka akan menangis bersamanya. Pecinta mencium tanah yang diinjak kekasihnya ketika berjalan. Ia iri kepada kesempatan yang dimiliki sepatu kekasihnya. Pecinta menggelar permadani di pintu bagi sang  kekasih.  Alis  sang  kekasih  adalah  Mihrab,  pintu  lengkung  pada  masjid.  Tahi  lalat  di  pipi kekasih  adalah  noda  ajaib  yang  mengungkapkan  rahasia  langit  dan  bumi  kepadanya.  Debu  di bawah kaki kekasih baginya merupakan tanah sakral dari Ka’bah. Wajah kekasih adalah Al Qur’an yang  terbuka,  dan  ia  mambaca  Alif,  huruf  dan  huruf  simbolik  dari  nama  Allah,  dalam  sifat  sang kekasih.  Pecinta  minum  anggur  Kauthar,  yang  keluar  dari  mata  kekasih.  Pandangan  kekasih membuatnya  mabuk.  Suara  gelang  kekasih  membuatnya  hidup.  Pecinta  puas  dengan  melihat kekasih meskipun dalam mimpi, bukan dalam keadaan terjaga.

Bila  pecinta  berkata  hampir  mati,  kekasih  tak  mempercayainya.  Pecinta  begitu  ‘habis’  hingga malaikat Mankir dan Nakir tak dapat melacaknya di dalam kubur. Kekhawatiran akan pendekatan pecinta membuat sang kekasih mengumpulkan pakaiannya dan mengangkatnya ketika melintasi kuburan pecinta itu agar tangannya dapat meraihnya.

Dengan tarikan napas yang dalam dari pecinta, langit dan bumi berguncang. Air matanya berubah menjadi  bunga  ketika  menyentuh  tanah.  Derita  adalah  sahabatnya  dalam  hati  malam,  dan kematian    adalah    sahabatnya    di    sepanjang    perjalanan    hidup.    Ia    merencanakan    dan membayangkan  seribu  hal  untuk  dikatakan  kepada  kekasih,  mengenai  kerinduannya,  deritanya, kekagumannya, dan cintanya. Namun ketika melihat sang kekasih ia tersihir, lidahnya tak bergerak bibirnya terkatup, matanya terpaku sepenuhnya pada kekasihnya.

Kegembiraan  dalam  arti  yang  nyata  hanya  diketahui  oleh  seorang  pecinta.  Orang  tanpa  cinta hanya mengetahui namanya, ia tidak mengetahui kenyataannya. Perbedaannya seperti manusia dan batu. Dengan semua perjuangan dan kesulitan hidup, manusia lebih suka menjadi manusia daripada  menjadi  batu  yang  tak  tersentuh  oleh  perjuangan  atau  kesulitan,  karena  dengan perjuangan  dan  kesulitan,  kegembiraan  hidup  menjadi  sangat  besar.  Dengan  semua  derita  dan kesedihan  yang  harus  ditemui  pecinta  di  dalam  cinta,  kegembiraannya  dalam  cinta  tak  dapat dibayangkan,  karena  cinta  adalah  hidup,  dan  tanpa  cinta  berarti  mati.  “Para  malaikat  akan meninggalkan kebebasan mereka di surga, andai mereka tahu kegembiraan ketika cinta bersemi pada orang muda.”

Ada  dua  obyek  yang  pantas  dicintai:  di  dataran  rendah,  manusia,  dan  di  dataran  tinggi,  Allah. Setiap orang di dunia mula-mula belajar mencintai di dataran rendah. Segera setelah seorang bayi membuka  matanya,  ia  mencintai  apa  pun  yang  dilihatnya,  semuanya  tampak  indah.  Kemudian muncul cinta kepada sesuatu yang permanen, yang tak berubah, yang menuju ke kesempurnaan Allah.  Namun  kemudian  manusia  telah  terpaku  pada  posisi  yang  sulit  dalam  hidup  di  mana

terdapat  pertentangan  satu  sama  lain.  Idola  menarik  dari  satu  sisi,  dan  gagasan  kesempurnaan menarik dari sisi lain, dan jarang sekali orang yang terangkat dari kesulitan ini.

Hal ini dijelaskan dalam kehidupan Surdas, seorang pemusik dan penyair India. Dengan sangat mendalam ia mencintai seorang penyanyi dan senang melihatnya. Kecintaannya meningkat hingga
ia tak dapat hidup tanpa dia dalam sehari saja. Suatu ketika terjadi hujan lebat yang berlangsung berminggu-minggu dan seluruh negeri banjir. Tak ada cara untuk bepergian, jalan-jalan tak dapat dilalui,  tetapi  tak  ada  sesuatu  pun  yang  dapat  menghalangi  Surdas  untuk  menemui  kekasihnya seperti yang dijanjikan.

Ia berangkat dalam hujan lebat, tetapi di tengah jalan ia terhalang sungai yang banjir dan tak dapat diseberangi. Tak ada perahu yang tampak; maka Surdas meloncat ke dalam    sungai    dan    mencoba    berenang.    Ombak    sungai    yang    kasar    mempermainkannya, mengangkatnya dan menceburkannya seolah-olah ia jatuh dari gunung ke dalam jurang. Untung, ia  menjatuhi  sebuah  mayat,  yang  diperlakukannya  seperti  sebatang  kayu,  ia  meraihnya  dan berpegang  kepadanya.  Pada  akhirnya,  setelah  perjuangan  yang  keras,  ia  sampai  ke  rumah kekasihnya.

Ia  menemukan  pintu  rumah  itu  terkunci.  Waktu  itu  telah  larut  malam  dan  setiap  suara  akan mengganggu  tetangga.  Maka  ia  mencoba  memanjat  rumah  dan  masuk  melalui  jendela  atas.  Ia berpegang pada ular kobra yang tampak seperti tali yang tergantung, berpikir bahwa ‘tali’ itu segaja dipasang di sana untuknya oleh kekasihnya.

Kekasihnya terkejut ketika melihatnya. Ia tak dapat mengerti mengapa pecintanya berhasil datang, dan kesan cintanya tampak semakin besar dari sebelumnya. Gadis itu seolah-olah diberi inspirasi oleh  cinta  lelaki  itu.  Di  matanya,  lelaki  itu  bukan  lagi  manusia,  tetapi  telah  meningkat  menjadi malaikat, terutama setelah ia tahu bahwa pecintanya telah menganggap mayat sebagai kayu dan ular  kobra  sebagai  tali.  Ia  melihat  bagaimana  kematian  dikalahkan  oleh  lelaki  pecintanya.  Ia berkata  kepadanya,  “Hai  pemuda,  cintamu  lebih  besar  dari  cinta  rata-rata  manusia,  dan  andai cintamu  diperuntukkan  bagi  Allah,  betapa  besarnya  kegembiraan  yang  akan  engkau  peroleh! Karena  itu,  bangkitlah,  angkatlah  cintamu  terhadap  bentuk  dan  materi,  dan  arahkan  cintamu kepada ruh Allah.” Lelaki itu mematuhi saran itu seperti anak kecil, meninggalkan gadis itu dengan berat hati dan sejak itu ia berkelana di dalam hutan-hutan di India.

Bertahun-tahun ia berkelana di hutan-hutan, menyebut-nyebut nama Kekasih ilahinya dan mencari perlindungan  di  dalam  tangan-Nya.  Ia  mengunjungi  tempat-tempat  sakral,  tempat-tempat  ziarah, dan  secara  kebetulan  ia  tiba  di  tepi  sebuah  sungai  sakral,  di  tempat  itu  wanita-wanita  dari  kota datang setiap pagi ketika matahari terbit untuk mengisi tempayan mereka dengan air suci. Surdas, yang duduk di sana sambil memikirkan Allah, terpesona oleh keindahan salah satu wanita yang datang. Karena hatinya adalah lentera, ia tak perlu lama untuk menyala. Ia mengikuti wanita itu. Ketika  memasuki  rumahnya,  wanita  itu  berkata  kepada  suaminya,”Seorang  suci  melihatku  di sungai dan mengikutiku sampai ke rumah, dan ia masih berdiri di luar.

” Si suami segera keluar dan melihat lelaki itu. Ia berkata, “Hai Maharaja, apa yang membuatmu berdiri di situ? Adakah sesuatu yang  dapat  kulakukan  untukmu?”  Surdas  berkata,  “Siapakah  wanita  yang  tadi  memasuki  rumah ini?”  Ia  menjawab,  “Dia  isteriku;  aku  dan  dia  siap  melayani  orang  suci  seperti  anda.”  Surdas berkata, “Suruhlah dia datang, hai orang yang diberkahi, agar aku dapat melihatnya sekali lagi.” Ketika wanita itu keluar, Surdas melihatnya sekali dan berkata, “Hai Ibu, bawakan aku dua buah [paku]  pines.

”  Dan  ketika  benda  yang  diminta  itu  diberikan  kepadanya,  ia  membungkuk  kepada pesona dan kecantikan wanita itu sekali lagi, kemudian menusukkan pines itu ke kedua matanya sambil  berkata,  “Hai  mataku,  engkau  tak  akan  lagi  melihat  dan  tergoda  oleh  keindahan  duniawi dan membawaku turun dari surga ke bumi.”

Maka ia menjadi buta sejak itu; lagu-lagunya mengenai kesempurnaan ilahi masih terus hidup dan dinyanyikan  oleh  orang-orang  India  yang  mencintai  Allah;  dan  bila  seorang  Hindu  buta,  orang memanggilnya Surdas sebagai penghormatan.

“Meskipun aku hanya mencintai satu, tetapi ia abadi,” kata Mohi. Cinta hanya dapat ada bila hanya ada  satu  obyek  di  depan  kita,  bukan  banyak  obyek.  Bila  obyeknya  banyak,  tidak  akan  ada kesetiaan.  “Bila  di  tempat  bagi  satu  terdapat  dua,  keistimewaan  yang  satu  itu  hilang.  Karena alasan itu, aku tak ingin potret kekasihku dibuat.” Yang satu itu ialah Allah, yang tak berbentuk dan tak bernama, yang abadi, yang bersama kita selamanya.

Cinta bagi satu orang, betapa pun dalamnya, tentu berbatas. Kesempurnaan cinta terletak pada ukuran  besarnya.  “Kecenderungan  cinta  adalah  untuk  mengembang,  dari  satu  atom  hingga  ke seluruh alam semesta, dari satu kekasih duniawi hingga Allah.”

Cinta kepada manusia adalah primitif dan tidak lengkap, tetapi diperlukan untuk memulai. Orang tak akan dapat berkata, “Aku mencintai Allah,” bila ia tak memiliki cinta kepada sesama manusia. Namun ketika cinta mencapai kulminasi pada Allah, ia telah mencapai kesempurnaannya.

Cinta menciptakan cinta di dalam manusia dan lebih banyak lagi dengan Allah. Itu merupakan sifat cinta. Bila anda mencintai Allah, Allah mengirimkan cinta-Nya lebih banyak kepada anda. Bila anda mencarinya di malam hari, Dia akan mengikuti anda pada siang harinya. Di mana pun anda, dalam kegiatan  anda,  dalam  transaksi  bisnis,  pertolongan,  perlindungan  dan  kehadiran  ilahi  akan mengikuti anda.

Ungkapan cinta terletak di dalam kekaguman tanpa kata, kontemplasi, pelayanan, perhatian untuk menyenangkan  kekasih,  dan  kehati-hatian  untuk  menghindari  ketidaksukaan  kekasih.  Ungkapan cinta demikian oleh seorang pecinta akan menyenangkan kekasih, yang kebanggaannya tak dapat dipuaskan dengan cara lain. Keridhaan kekasih merupakan satu-satunya tujuan pecinta, tak ada harga yang terlalu mahal untuk memperolehnya.

Sifat keindahan adalah tak sadar akan nilai keberadaannya. Idealisasi pecinta-lah yang membuat keindahan  itu  bernilai,  perhatian  pecinta-lah  yang  menghasilkan  kepastian  keindahan,  suatu kesadaran akan adanya kelebihan, dan gagasan, “Aku bahkan lebih hebat dari yang kupikir.” Bila kebanggaan    dari    suatu    keindahan    duniawi    dapat    dipuaskan    dengan    kekaguman,    maka kebanggaan akan keindahan langit dipuaskan dengan mengagungkan-Nya, keindahan sejati satu- satunya   yang   berhak   atas   segala   pujian.   Tiadanya   kesadaran   dari   pihak   manusia   yang membuatnya  melupakan  keindahan-Nya  dalam  segala  hal  dan  mengakui  tiap  keindahan  secara terpisah,  menyukai  yang  satu  dan  tak  menyukai  yang  lain.  Dalam  pandangan  orang  yang  tahu, mulai dari bagian keindahan terkecil hingga keindahan mutlak alam semesta, semua menjadi satu keberadaan tunggal Kekasih ilahi.

Diceritakan bahwa Allah berfirman kepada Nabi, “Hai Muhammad, andai Kami tidak menciptakan kamu  semua,  Kami  tidak  akan  menciptakan  seluruh  alam  semesta.”  Apa  artinya?  Artinya, keindahan surgawi, keindahan seluruh Keberadaan, dicintai, dikenal dan diagungkan oleh pecinta ilahi,  dipindahkan  ke  kepuasan  yang  sempurna,  berkata  dari  dalam,  “Bagus,  engkau  telah mencintai-Ku  dengan  sepenuhnya.  Andai  bukan  bagi  kamu,  hai  pengagum  keberadaan-Ku,  aku tak  akan  menciptakan  alam  semesta  ini,  di  mana  makhluk-Ku  mencintai  dan  mengagumi  satu bagian  keberadaan-Ku  di  permukaan,  dan  keindahan-Ku  yang  penuh  terhijab  dari  pandangan mereka.”  Dengan  kata  lain,  Kekasih  ilahi  berfirman,  “Aku  tak  punya  pengagum,  meskipun  aku berdiri dihiasi. Sebagian mengagumi gelang-Ku, sebagian mengagumi anting-anting-Ku, sebagian mengagumi kalung-Ku, sebagian mengagumi cincin-Ku; tetapi Aku akan mnemberikan tangan-Ku kepadanya dan menganggap ia mengagumi diri-Ku sendiri. Pada sesiapa yang memahami-Ku dan mengagungkan keberadaan-Ku secara penuh, padanya terletak kepuasan-Ku.”

Filed under: Hikayat Cinta, , , , , , , ,

One Response

  1. Ririn furoida mengatakan:

    Subhanallah..indah sekali..smg RUH CINTA-NYA menerangi hati kita semua..smg bermanfaat n menjd amal penerang bagi penulisnya.amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Dalam suatu kesempatan, saya pernah melihat seorang auditor keamanan jaringan melalukan penetration test (pen-test) terhadap suatu sistem IT. Read more...

Mau Bisnis Pulsa???

server
Bisnis Server Pulsa, mo bisnis server pulsa elektrik all operator tapi bingung cara mulainya? Lanjuuut >>

Pulsa Murah Proses Cepat

supplier pulsa
Stok Pulsa All Operator, Cari Pulsa Murah Disini Tempatnya... Lanjuuut >>

Tips Tawar Menawar Harga Rumah

Info Property
Ada seni & trik tersendiri yang diperlukan orang saat jual beli barang. Yakni, bagaimana tawar-menawar harga.

Indo Flasher

ufs3
Cara Mudah Belajar Service Handphone dengan Ahlinya ada di sini nih..
Baca Selengkapnya »

Elektronik HOBY

Elektronik Hoby
Cara Mudah Belajar ELEKTRONIK dengan Ahlinya ada di sini nih..
Baca Selengkapnya »
Master Digital

bisinis mlm
Server Pulsa

Video Tutorial IM Mau..???

"Video Tutorial" Desaind WebSite & Menghasilkan PASIVE INCOME Mau??? Password aksess :allnitecafe
Klik Disini>>

RSS Bedah Tentang Server Pulsa

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Download Skematik Elektronik

Pengunjung ke :

  • 429,983 Pengunjung
free counters

Tukeran Link Yuk Taruh Script Ini Di Blog anda & saya akan Link Balik

<a title="allnitecafe" href="https://allnitecafe.wordpress.com/" target="_blank"> <img src="https://allnitecafe.files.wordpress.com/2009/08/master-digital.gif" border="0" alt="allnitecafe" /></a>
Master Digital Software Pulsa Elektrik
%d blogger menyukai ini: